Sempat Jadi Bahan Ejekan, Honda Astrea Tua ini Mampu Finish 10 Besar

Pakai nomor #128 Roland 14 tahun, percaya diri tinggi pakai motor tua

    Dari ajang balapan tingkat daeah ber title “Kejurda Motoprix 2016” Singkawang Kalimantan Barat Minggu 22 Agustus 2016, satu moment unik ini benar-benar mengusik pehatian mata. Amati saja, soal tampilan, mungkin jauh dari kesan garang dan racing…. Terlebih soal usia tahun pembuatan, kuda besi ini pun masih generasi rangka model “plat” tentu beda jauh dengan musuh-musuhnya motor masa dengan yang sudah pakai rangka pipa. Tapi itu gak jadi soal, semangat membalap mengalahkan segala-galanya. Keterbatasan pun diterobos meski harus turun balap dengan minim dana dan penuh kesederhanaan.

     Yup… dari tampilan samping secara fisik motor ini pakai body motor Cina Jialing JL 100, namun faktanya ini adalah asli motor Honda. Lebih tepatnya Honda Astrea Grand tahun 1995 yang sudah dimodifikasi sana-sani dengan penuh kesederhanan dan tidak menunjukkan full racing. Ini adalah motor balap sederhana penuh keterbatasan milik Nato asal Toho Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat yang dipercayakan kepada Roland joki muda yang juga dari Mempawah.

     Kepada 221, Nato mengaku kurang dana saat membangun motor ini. Bahkan piranti pengereman pun, doi pake produk imitasi yang lebih dikenal sebagai “cakram Supra KW”. Ia berkisah spek singkatnya, Piston cukup pake punya Kawasaki Kaze, noken as pakai merk dari Malaysia katanya, lalu, klep masih perawan alias standard tong.. ting.., kampas kopling pakai punya Honda Tiger, yang bikin geli adalah pembuatan piranti kopling manual, yang mengaku memang benar-benar kurang dana, Nato mengakalinya dengan model “tebok” kata dia. Atau bila kita pahami pada gambar, sistem kopling yang tanpa melubangi bak kopling itu sendiri, melainkan manfaatkan lubang tutup oli sebagai jalan kawat kopling untuk pengungkit kinerja kopling manual ini. Meski begitu soal ban tetap pake khusus road race, depan FDR MP76 dan belakang MP27.

Terlihat sederhana, bahkan perangkat pengereman pun punya Supra KW, batok lampu tetap kece pakai old Vario

     Yup…, lanjut soal performa di lintasan… Nato yang menurunkan kuda besi jadul ini di kelas MP6. Yupss… MP6 atau kita kenal sebagai kelas bebek 4 Tak standard 110 cc dimana ada pembatasan usia di kelas ini. Roland sang joki pun usianya masih 14 tahun. gileee.. yang pasti usia motor ini jauh sangat tua dibanding sang penjinaknya... 😀

     Cukup heroik sebenarnya geng sist…, karena awal mulanya motor ini banyak jadi bahan tertawaan di area sikuit Singkawang kemarin…, tentu wajar, motor ini tua dan pastinya banyak yang meragukan kemampuannya. Banyangkan.., doi harus bersaing dari latihan hingga kualifikasi bersama total 23 peserta yang kebanyakan menggunakan Yamaha Jupiter Z dan Honda Blade.

    Namun berkat konsistensi tinggi Roland sang joki, pada babak kualifikasi doi tercepat berada di posisi 11 geng sist… artinya dia sukses menyingkirkan 12 peserta di belakangnya, dan 14 terbaik yang diambil ke final. Akhirnya pun sukses masuk babak final, dan hasil pun tidak jelek. Yup… doi finish di posisi 10. Yah…. Memang bukan prestasi podium juara, tapi motor tua ini sukses pecundangi belasan motor di belakangnya, dan hasil bagus untuk ukuran motor tua yang bahkan baru pertama kali turun di road race. Mantabzz… usaha kerasnya… gigihnya perjuangan Nato semoga menginspirasi kita semua, karena keterbatasan sebenarnya bisa kita terobos dengan semangat tinggi… Gasss..  Rudi221

Sekilas penampakan di lintasan

author